Apakah Benar Bisa Produktif dengan Multitasking?

Bismillahirrohmaanirrohiim

Hai teman-teman, apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat walafiat aamiin.

Adakah yang merasa sering lupa dan kurang bisa konsentrasi? Saya ingat pernah terjadi ketika mengobrol dengan teman. Tiba-tiba ada teman lain yang datang menyapa sehingga membuat saya lupa kelanjutan bahan obrolan sebelumnya. Bingung juga kenapa tiba-tiba saya lupa.

Pun, ada juga saatnya lupa sejenak untuk melanjutkan sebuah kegiatan saat melakukan lebih dari satu kegiatan yang bersamaan. Sehingga membuat pikiran mengembara entah kemana.

Siapa yang merasakan hal yang serupa?

Wanita yang konon katanya dikenal dengan multitasking, dianggap mampu mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Misalnya, saat nyuapin anak, bisa loh sambil ngobrol sekaligus membalas percakapan di whatsapp.  Atau sekadar untuk membuka resep di handphone sambil memasak.

Kemampuan ini dibuktikan secara ilmiah oleh seorang psikolog di University of Hertfordshire, Professor Keith Laws. Di dalam penelitiannya, ia menyebutkan bahwa wanita sangat baik dalam mengerjakan pekerjaan multitasking dibandingkan pria. Karena dapat mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja secara simultan.

Sebuah artikel pun memperkuat tulisan yang menyatakan bahwa wanita memiliki corpus callosum yakni sekelompok syaraf yang menghubungkan otak kanan dan otak kiri yang ukurannya 25% lebih besar dibanding pria.

Memiliki koneksi yang kuat antara bagian-bagian otak yang berlainan. Ini yang memunculkan kemampuan wanita dalam multitasking. Dengan demikian, dalam satu waktu wanita mampu berpikir, mengingat, merasa, mendengar dan merencanakan suatu hal secara bersamaan.

Padahal tidak benar jika meyakinkan bahwa multitasking dapat membantu menyelesaikan tugas. Kenyataannya, orang yang melakukan kegiatan multitasking cenderung mempengaruhi kinerja dan menurunkan produktivitas hingga 40 persen.

Mengutip penelitian yang dituliskan dalam shift Indonesia (2019) menyebutkan bahwa otak manusia hanya bisa fokus pada satu tugas pada satu waktu. Seperti pernyataan Profesor Earl Miller, seorang ahli saraf di Massachusetts Institute of Technology. Ia melakukan penelitian dengan memindai kepala (sukarelawan) saat mereka melakukan pekerjaan yang berbeda. Dia menemukan bahwa ketika ada banyak objek visual di depan relawan, hanya satu atau dua objek yang cenderung mengaktifkan otak. Ini berarti bahwa para relawan hanya bisa fokus pada satu atau dua objek pada waktu tertentu.

Penelitian ini juga dilakukan oleh Universitas Stanford. Setelah melakukan percobaan terhadap 100 siswa melalui serangkaian test, ilmuwan menyimpulkan bahwa mereka yang mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan secara bersamaan mudah teralihkan dan hanya memiliki sedikit kontrol atas konsentrasi mereka dibandingkan dengan mereka yang menyelesaikan pekerjaan satu per satu .

Kesimpulan dari dua penelitian di atas adalah seseorang yang sering multitasking, memiliki tingkat fokus yang lebih rendah daripada mereka yang lebih suka menyelesaikan satu tugas pada satu waktu. 

Dan cara terbaik untuk menyelesaikan semua pekerjaan yaitu fokus pada satu kegiatan ya bu ibu. Hal ini sebagai upaya untuk kita berkomitmen dan fokus penuh pada satu kegiatan tersebut.

Dengan begitu, kita akan mencapai kinerja yang berkualitas tinggi dan meningkatkan produktivitas untuk melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.

Sumber:

https://kumparan.com/

http://shiftindonesia.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s