Kenapa Memilih Montessori Sebagai Metode Pendidikan Anak Usia Dini

Pernah mendengar kata-kata, “Anaknya tidak bisa diam. Dia selalu lari-lari di dalam rumah”. Ada juga yang mengatakan, “Dia selalu suka memegang sapu saat saya hendak menyapu. Padahal kan dia belum bisa”.

Hal-hal yang terkesan melabeli anak dengan kata-kata negatif itu bisa mengganggu self esteem mereka. Self esteem adalah kemampuan untuk mengapresiasi maupun menyukai diri sendiri. Ini juga bisa menjadi racun bagi seseorang ketika ia dilabeli seperti itu terus menerus.

Hal itu pun pernah saya lakukan, seperti melabeli anak dengan kata yang tidak baik. Setelah saya sadari, mungkin itu karena saya terlalu lelah dengan kegiatan di rumah dan bingung menghadapi perilaku anak.

Setelah mengetahui tahap tumbuh kembang anak dan lebih menekuni metode Montessori, saya merasa tercerahkan. Tak hanya membantu saya, sebagai ibu untuk dapat memahami perilaku anak, akan tetapi juga untuk lebih mengenal diri saya sendiri.

Dan saya ingin berbagi pengetahuan tentang apa itu Montessori dan mengapa Montessori bisa membantu saya ketika menemani anak-anak?

Bagaimana Kemunculan Metode Montessori

Jika bercerita mengenai sejarah metode Montessori, ini tak lepas dari peran seorang perempuan yang lahir tahun 1800-an yang bernama Maria Montessori. Ia adalah seorang dokter pertama di Italia yang bekerja di sebuah rumah sakit untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Setiap hari, Montessori memperhatikan anak-anak tersebut berjalan sambil merogoh kantong celana seperti sedang meremas-remas sesuatu. Nah, setelah diselidiki ternyata mereka menyimpan remah-reman roti sisa sarapan di dalam kantungnya. Dr. Maria Montessori kemudian menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah upaya alami bagi mereka untuk mensitmulasi indera peraba.

Salah satu fondasi utama dalam metode Montessori adalah tentang menstimulasi seluruh indera anak. Keseluruhan indera ini tidak hanya pada visual dan audio, melainkan lebih dari itu.

Metode ini pun muncul ketika dr. Maria Montessori berada di sebuah pusat pendidikan anak bernama Cassa de Bambini. Artinya rumah anak-anak. Di sana, ia melakuka observasinya terhadap perilaku dan kebutuhan anak.

Untuk menangani anak-anak yang agresif di tempat tersebut, Montessori mengarahkannya untuk terlibat dalam kegiatan sehari-hari. Seperti membersihkan lantai, merawat tanaman, menyiapkan makanan, memakai pakaian sendiri, dan keseharian lainnya. Di sini muncul pemahaman tentang area praktik kehidupan sehari-hari, yang melibatkan anak secara aktif dengan material konkret yang dapat dieksplorasi dengan seluruh indera.

Kegiatan ini juga memiliki maksud bahwa anak-anak membutuhkan kegiatan bermakna, yang tidak hanya untuk menyalurkan energi mereka. Namun juga mereka bisa merasakan bahwa dirinya bermanfaat dan berharga.

Di sini pun saya menyadari bahwa orang tua memiliki kebebasan, apakah anak-anak yang memiliki energi besar ini dapat dibiarkan meluap-luap tanpa arah atau memanfaatkannya menjadi hal positif dengan sedikit upaya.

Saya percaya bahwa tidak ada anak yang nakal. Karena mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang itu pasti baik. Jangan-jangan perilaku yang tidak baik itu, hanyalah sebuah kebutuhan yang belum terpenuhi dan belum berhasil kita terjemahkan. Karena itu, observasi anak adalah yang utama.

Masa Keemasan Anak

Adakah yang mengetahui, apa itu golden age? Kenapa disebut dengan masa kritis?

Karena ini adalah masa yang penting untuk berkembangnya otak anak yakni sebesar 80%.  Masa ini, ibarat spons di mana anak akan mudah menyerap segala informasi dengan mudahnya. Ada di dalam di buku 3M (Mendampingi, Menstimulus, Mengantisipasi) jika ingin mengetahui tahapan tumbuh kembang anak.

Di dalam masa keemasan anak ini, Montessori menyebutkan dengan periode absorbent mind. Absorbent mind adalah proses anak untuk mencerna dan mendapatkan pengetahuan dari lingkungan sekitarnya.

Before three, the function are being created. After three, they develop.”

Maria Montessori

Absorbent mind dibagi dua, yaitu unconscious mind yang terjadi di usia 0-3 tahun dan conscious mind di usia 3-6 tahun. Unconscious mind ini yaitu kemampuan otak anak untuk menyerap segala sesuatu di lingkungannya secara tidak sadar. Ini dapat menjadi tabungan pengalaman yang akan menjadi modal di tahap selanjutnya.

Conscious mind, anak mampu mengambil impresi secara sadar melalui kedua tangannya. Karena itu, di periode usia ini, anak dapat bekerja sesuai dengan kecepatannya masing-masing dengan dilengkapi “cycle of activities”.

Karena itu, saya percaya bahwa setiap sudut di dalam rumah dapat menjadi tempat bagi anak untuk belajar dan berkembang. Bisa dimulai dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, prinsip yang dilakukan Montessori dalam menemani perkembangan anak adalah “Children teach themselves”. Layaknya kita menanam sebuah tumbuhan. Jika ia mendapat air dan pupuk yang cukup serta mendapat sinar matahari, lantas ia akan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri.

Lalu apa yang bisa orang tua lakukan? Kita dapat mengintervensi dari luar saja. Selebihnya, biarkan ia berkembang sesuai dengan potensinya.

Bagaimana caranya?

Yaitu dengan mempersiapkan lingkungan yang aman untuk mendukung anak agar berkembang (prepared environment). Aman dari benda-benda tajam yang tersimpan rapi dan tidak dapat dijangkau oleh anak. Aman bagi mereka dapat meraih sendiri barang-barang yang dibutuhkan. Biarkan mereka bebas mengeksplorasi lingkungannya. Sedapat mungkin, mereka menggunakan benda berukuran mini sesuai dengan benda aslinya. Contohnya sapu kecil, khusus untuk anak-anak.

Jadi, dua hal yang dapat saya sampaikan hari ini tentang Montessori adalah absorbent mind dan prepared environment. Semoga kita dapat menyiapkan lingkungan yang memadai di rumah sebagai tempat anak-anak kita belajar untuk pertama kalinya.

Sumber:

  1. Buku Jatuh Hati pada Montessori karya Vidya Dwina Paramita
  2. Buku MHA

1 thought on “Kenapa Memilih Montessori Sebagai Metode Pendidikan Anak Usia Dini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s