Mengenal Perkembangan Sosial dan Emosi Anak Usia Dini

Bismillahirrohmaanirrohiim

Hai teman-teman, apa kabar?

Saya mau cerita tentang perkembangan sosial dan emosional anak pada usia dini.

Jadi, berkembangnya kemampuan sosial dan emosional anak, itu berbeda di setiap tahapan usianya. Kalau kita tidak tahu tentang tahap perkembangannya, biasanya akan membuat ekspektasi kita lebih tinggi dari apa yang terjadi pada usianya. Akhirnya membuat kita orang tua menjadi lebih mudah marah, mudah melarang, dan sebagainya.

Teori perkembangan sosial dan emosi anak usia prasekolah

Berdasarkan Teori Erikson (1950), mengenai teori perkembangan sosial emosi anak usia dini itu ada dua tahap, yaitu

1. Tahap autonomy vs shame/doubt atau dikenal sebagai kemandirian atau lawan katanya adalah malu atau ragu. Tahapan ini terjadi pada usia 2-4 tahun.

Pada tahap ini anak memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan diri (self-regulation), dan mulai berkembangnya rasa percaya diri. Oleh karenanya, anak perlu diberikan ruang untuk bisa melakukan sendiri apa yang diinginkan. Dengan demikian, proses kemandirian anak dapat berjalan dengan baik.

Apabila anak pada masa ini sering dikritik, maka emosi yang timbul adalah negatif. Merasa apa yang dikerjakan selalu salah sehingga anak cenderung bersikap apatis (kurang antusias), takut salah, dan tidak berani mencoba atau mengambil risiko.

2. Tahap initiative vs guilt, juga disebut sebagai tahap inisiatif yang berkebalikan dengan rasa bersalah. Tahap ini berlangsung pada usia 4–6 tahun.

Pada tahap ini anak aktif bereksperimen, berimajinasi, berani mencoba, berani mengambil risiko, dan senang bergaul dengan temannya.

Teori Tahap Perkembangan Anak

Selanjutnya, menurut teori perkembangan anak usia dini,  perkembangan tahap sosial dan emosi anak di usia 1-5 tahun adalah sebagai berikut:

Anak usia 1-2 tahun

Anak di usia 1-2 tahun biasanya akan menangis jika orang dewasa meninggalkannya. Seperti ketika papa atau mamanya hendak berangkat kerja atau ketika mamanya hendak keluar kamar untuk mengambil barang, biasanya anak akan menangis karena merasa ditinggal.

Di usia ini, anak juga memiliki rasa percaya diri dengan menunjukkan kemampuannya untuk belajar berjalan, berdiri, atau berbicara

Apa yang orang tua bisa lakukan?

Di usia 1-2 tahun anak sedang merasakan separate anxiety atau merasa tidak nyaman ketika berpisah dengan seseorang. Untuk melatih kemandirian anak, kita bisa berpamitan ke anak dan katakan bahwa kita akan kembali. Misalkan, kita hendak keluar kamar sebentar untuk mengambil barang.

“Dik, mama mau keluar sebentar ya untuk mengambil susu di dapur. Setelah mengambil susu, mama akan kembali ke kamar”.

Dengan begitu, anak akan tahu bahwa orang terdekatnya akan kembali walaupun saat ini ia pergi.

Begitu juga ketika orang tua akan pergi keluar rumah, katakan berapa lama kita akan pergi dan kapan akan kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah pun, kita bisa menyambut anak dengan antusias dan memberikannya perhatian. Dengan begitu, anak akan merasan nyaman dan aman.

Usia 2-3 tahun

Di rentang umur 2-3 tahun, perkembangan sosial dan emosionalnya belum stabil. Atau sering disebut dengan tantrum ya. Karena ia sudah mulai mengenal perasan yang ada di dalam dirinya namun belum bisa menyampaikan dengan baik.

Di rentang usia ini juga muncul kemandirian seperti anak mulai senang mencoba melakukan sesuatu sendiri. Rasa penasaran anak meningkat di rentang usia ini. Anak memiliki rasa ingin tahu yang meningkat dan ia akan menghabiskan waktu untuk mencoba memahami apa yang terjadi pada lingkungannya. Meskipun begitu, kita perlu mendampingi anak di fase usia ini. Berikan bantuan secukupnya sekaligus membantu memantau dari jauh apa yang ia lakukan, agar perkembangan sosial dan emosional tetap terstimulus.

Apa yang orang tua bisa lakukan?

Karena emosinya yang cenderung meledak-ledak karena ia belum tahu apa yang sedang ia rasakan. Kita bisa mengenalkan anak atas emosi apa yang sedang ia rasakan. Misalkan ketika anak berteriak,

 “Adik lagi marah, ya. Adik ngantuk? Karena dari tadi kucek-kucek mata.”

Dengan membantu memberikan label pada apa yang sedang dirasakannya, anak dapat belajar untuk menyebutkan emosinya sendiri.

Selain emosi negative, kita bisa juga mengenalkan emosi positif, seperti perasaan senang. Misalkan anak tertawa melihat orang terdekat menggunakan topi panda.

“Seru banget adik tertawanya. Lagi senang ya. Kakak lucu ya pakai topi panda”

Dengan memberikan tanggapan yang positif atas emosinya, anak akan merasa dihargai.

Usia 3-4 tahun

Bagaimana perkembangan emosional dan sosial anak usia dini rentang 3-4 tahun?

Di usia ini, anak perlahan mulai mengenali emosinya dan mengetahui bagaimana harus merespon. Perkembangan bahasa sudah semakin baik namun belum sempurna. Misalkan, jika menemukan sesuatu yang lucu, maka ia akan tertawa. Begitu juga ketika menemukan sesuatu yang membuatnya marah, ia akan berteriak atau menangis untuk melampiaskan emosinya.

Apa yang orang tua bisa lakukan?

Kita bisa menunjukkan rasa empati pada apa yang dirasakannya. Misalkan ketika mainannya rusak karena tidak sengaja terinjak kaki.

“Adik sedih ya karena mainannya rusak. Kenapa ya mainannya bisa rusak? Loh ternyata belum dirapikan. Boleh ya nanti setelah bermainnya selesai, mainannya dirapikan agar tidak rusak”

Di usia ini, ketika kita berusaha menjadi teman untuk mengerti keadaannya, anak akan merasa nyaman dan aman di dekat kita.

Usia 4-5 tahun

Rentang usia 4-5 tahun, anak sudah mengenal dan mengendalikan emosinya sendiri. Ia mampu menenangkan teman sedang bersedih dan bisa merasakan yang dirasakan temannya. Rasa empati itu mulai muncul ke dalam diri anak.

Namun, di usia ini anak belum tentu bisa kooperatif. Masih ada sisi yang kurang bersahabat jika suasana hatinya sedang tidak baik. Di usia ini, juga anak sudah mulai memberikan candaan atau berusaha melucu dengan tingkahnya di setiap kesempatan untuk menarik perhatian orang lain.

Apa yang orang tua bisa lakukan?

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengasah perkembangan emosional dan sosial anak usia dini, yaitu:

Kita bisa memberi contoh cara mengekspresikan emosi yang benar kepadanya. Karena anak senang meniru perilaku, perkataan, sampai kebiasaan orang lain. Bisa dengan bercerita kegiatan apa saja yang ia lakukan hari ini, lalu tanyakan apa yang dirasakan saat itu.

“Dik, tadi pagi kan menyiram tanaman ya sama papa. Adik senang gak?” bisa jadi ia senang karena bisa main air hihihi.

Bisa juga memperkenalkan emosi dengan bermain peran atau kartu bergambar.

Dengan begitu, hubungan orang tua dan anak pun akan semakin dekat.

Membangun perkembangan sosial dan emosi anak dengan rasa percaya diri anak ala Montessori.

Ada quote yang mengatakan,

“… the child’s individual liberty must be so guided that through his activity he may arrive at independence … the child who does not do, does not know how to do.”

The Montessori Method

Kebebasan individu anak harus dibimbing sedemikian rupa sehingga melalui aktivitasnya ia dapat mencapai kemerdekaan… anak yang tidak melakukannya, ia hanya tidak tahu bagaimana melakukannya.

Rasanya, saya pun dengan mudah memberikan bantuan ketika ia ingin minum saya lantas memberikan gelas yang ada di atas meja. Pada kenyatannya, pertolongan kecil seperti dapat memberikan halangan baginya untuk berkembang.

Kita bisa mengajak anak berinteraksi dengan lingkungannya, dengan membangun rasa percaya diri. Agar mereka merasakan bahwa ia mampu melakukannya.

Tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan bantuan sesuai dengan porsinya. Anak-anak bekerja pada proses sedangkan orang dewasa bekerja untuk hasil. Maka dari itu, ketika anak-anak akan bekerja melalui proses, ia akan bekerja dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa. Ketika kita bisa mengikuti ritme proses yang dilakukan anak, maka tanpa disadari kita dapat membangun rasa percaya dirinya.

1 thought on “Mengenal Perkembangan Sosial dan Emosi Anak Usia Dini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s