Pentingnya Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Corona

Bismillah

Hai ayah bunda pembelajar, apa kabar?

Bagaimana kabarnya hari ini? Bagaimana kondisi kesehatan mentalmu?

Merasa sedih, tertekan, khawatir, bingung ataupun marah. Itu semua adalah sesuatu yang normal. Terutama di saat pagebluk (wabah, penyakit) Covid-19. Namun, apakah kita mau berlama-lama berada di dalam kondisi seperti itu?

“Kuberitahu kau sebuah rahasia kecil. Dalam urusan ini, sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri.”

Tere Liye.

Karena melihat berita perkembangan kasus CORONA di TV terus-terusan, sempat membuat saya cemas. Ditambah, kita pun dihimbau untuk berkegiatan #dirumahaja dan membatasi diri dengan orang lain, alias social distancing. Sejumlah orang pun khawatir sakit atau tertular Covid-19. Di sisi lain mereka juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemi. Oleh karena itu, pentingnya menjaga pikiran tetap jernih demi kesehatan mental selama #dirumahaja.

Ada dampak psikologis yang muncul dari kondisi ini. Seperti yang disampaikan Brooks dkk. (2020) di dalam penelitian Vibriyanti (2020). Menurutnya, dampak psikologis selama pandemi diantaranya gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder), kebingungan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya. Bahkan beberapa psikiatris dan psikolog mencatat hampir semua jenis gangguan mental ringan hingga berat dapat terjadi dalam kondisi pandemi ini. Bahkan kasus xenofobia dan kasus bunuh diri karena ketakutan terinfeksi virus sudah mulai bermunculan.

Untuk itu, kesehatan fisik dan mental pun saling terkait dan butuh dikelola dengan seimbang. Keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental di masa pandemi juga telah menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan buku pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial (DKJPS) pada pandemi COVID-19.

Kapan kecemasann (stres) itu muncul?

Teori Lazarus (1976) berpendapat bahwa stres terjadi jika seseorang mengalami tuntutan yang melampaui sumber daya yang dimilikinya, untuk melakukan penyesuaian diri. Kondisi stres muncul ketika ada ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan. Tuntutan ini dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu tuntutan internal (kebutuhan biologis) dan tuntutan eksternal (lingkungan fisik maupun psikososial). Untuk lebih memahami stres, maka perlu dikenali terlebih dahulu penyebab stres yang biasa disebut dengan istilah stressor.

Ada empat sumber stres berdasarkan teori Lazarus, yaitu frustasi, konflik, tekanan, dan ancaman. Setiap orang akan bereksi berbeda-beda ketika menghadapi stres. Ada sebagian orang menyadari stres lalu merespon dengan membuat solusinya (coping), namun ada juga yang bereaksi dengan tidak sadar.

Mengelola kecemasan

Lazarus mengungkapkan bahwa perlu usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi situasi stres atau tuntutan yang membebani secara emosional yang ada, coping stress. Dan ada dua cara dalam mengelola kecemasan, yaitu problem focus coping dan emotional focus coping.

Problem focus coping merupakan coping stress yang digunakan untuk memecahkan masalah. Upaya yang dilakukan berpusat pada masalah, diarahkan pada mendefinisikan masalah, memunculkan alternatif tindakan dan tingkah laku.

Emotional focus coping mencakup pengurangan distress emosional, yang mencakup strategi seperti menghindar, meminimalisir, membuat jarak, melakukan selective attention, positive comparison, serta menilai positif mengenai kejadian yang dialami.

Ada lima faktor yang mempengaruhi keberhasilan coping stress berdasarkan Lazarus dan Folkman, yaitu kesehatan dan energi, keterampilan dalam memecahkan masalah, keyakinan diri yang positif, dukungan sosial, dan sumber daya material.

Sedangkan upaya saya dan keluarga untuk menanggulangi kecemasan agar kesehatan mental tetap terjaga, yaitu

  1. Menyaring dan mencermati informasi yang diperoleh terkait pagebluk ini.
  2. Melakukan hobi yang disukai seperti menulis atau bermain bersama anak.
  3. Melakukan kegiatan bersama keluarga seperti berolah raga ataupun menanam tanaman di akhir pekan.
  4. Melakukan meeting online dengan kerabat yang jauh.
  5. Tetap menjaga kebersihan dan menjaga jarak

Kalau kamu, apa yang biasanya dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi ini? Yuk bercerita di kolom komentar.

Sumber:

  1. https://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/550/pdf
  2. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/Pedoman-dukungan-keswa-psikososial-covid-19.pdf
  3. http://repository.maranatha.edu/14522/4/0730049_Chapter2.pdf

#writober2020 #RBMIPJakarta #pagebluk

3 Replies to “Pentingnya Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Corona”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s