Ketika Ibu Menjadi Guru

Bismillahirrohmaanirrohiim

Hai hai

Apa kabar ayah dan bunda pembelajar? Semoga dalam keadaan sehat walafiat.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah kulgram (Kuliah di Telegram) yang bertemakan “Guruku, Pahlawanku”. Azizah Juniarti merupakan narasumber untuk acara tersebut guru tahfiz di lingkungan rumahnya, yang kemudian.

Ada beberapa poin yang menurut saya penting dilakukan ibu yang berperan sebagai guru untuk anak-anaknya.

  1. “Kuncinya dalam mengelola waktu adalah menentukan skala prioritas”.

Membuat skala prioritas bisa dilakukan berdasarkan ‘suka dan bisa’ untuk dilakukan pertama kali. Seorang ibu yang memiliki banyak aktivitas cenderung merasa semua hal itu adalah penting. Rasanya 24 jam dalam sehari itu tidak pernah cukup. Padahal dengan melakukan penjadwalan dengan skala prioritas, tidak hanya urusan jadi cepat selesai, emosi pun juga menjadi lebih baik.

2. “Mengajar dengan ikhlas.”

Mengajar materi apapun bukan perkara mudah atau sulit, itu sebenarnya tergantung perasaan kita saat mengajar. Kunci yaitu mengajar dengan ikhlas

Bagaimana cara pengajaran di tahfiz?

Praktik langsung ketika mengajar tahfidz itu periu dilakukan. Seperti melafadzkan huruf dengan posisi makhraj yang sesuai, misal di tenggorokan, mereka harus rasakan getaran di tenggorokan. Bisa juga menggunakan cara perbandingan suara. Misal huruf Kho mirip dengkuran, ha seperti kepedasan dsb

3. “Ilmu itu tidak akan bermanfaat jika tidak dipraktekkan”.

Ada banyak cara mengupgrade ilmu, yang paling efektif adalah dengan cara learning by doing dan learning by teaching. Jadi, ketika ilmu tidak sering dipraktikkan, rasanya akan menguap begitu saja dan nihil.

4. “Temukan support system ketika dalam kondisi terrendah”.

Jadi ketika kita sedang dalam kondisi titik terendah, seorang ibu perlu support system ya mbak. Bisa dari keluarga atau komunitas.

Kata penutup dari narasumber yaitu, “Teruslah bersemangat mencari dan berbagi ilmu. Jangan menunggu ahli untuk bisa berbagi. Mulai dari apa yang kita miliki“.

Penutup

Seorang ibu yang berprofesi menjadi guru, baik di ranah publik maupun di ranah domestik, teruslah meng-upgrade diri dan skill. Lalu tentukan skala prioritas dalam mengatur jadwal. Mengajar dengan bahagia itu adalah kunci. Karena kebahagiaan dalam mengajar untuk bisa menular ke anak-anak untuk belajar dengan bahagia.

Sumber: diskusi kulgram HIMA “Guruku, Pahlawanku”

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Nihil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s