Dukung diri anak dengan membangun self esteem yang positif

Hai orang tua pembelajar. Apa kabar?

Semoga dalam keadaan sehat walafiat ya. Aamiin.

Kegiatan membangun kemandirian selama dua minggu ini di kelas bunda sayang menjadi sebuah tantangan tersendiri. Alhamdulillah sejauh ini Allah berikan kesempatan untuk bisa menangani keunikan anak dalam kegiatan sehari-hari. Akan tetapi menjadi hal yang luar biasa jika dihadapkan soal kemandirian makan anak.

Kemandirian makan anak

Pengalaman makan anak itu ibarat roller coaster. Tantangannya muncul sejak mba Hana berusia kurang dari setahun. Tantangan berlanjut hingga kini ia sudah berusia 4 tahun. Tentunya timbangan masih menjadi perhatian utama saya dan suami di rumah. Tidak harus memiliki badan yang gemuk. Melainkan anaknya aktif dan sehat serta juga memiliki ukuran berat badannya sesusai dengan umurnya dan tinggi badannya.

Perilaku saat makan pun juga menjadi tantangan tersendiri. Alhamdulillah sejak suami work from home ibarat bala bantuan. Sejak itu pula, saya jadi lebih positif melihat perilaku makan anak dan membangun pola makan yang lebih baik. Proses ini pun juga tidak selalu mudah.

Kemandirian pun dibangun sejak ia menentukan pilihan menu makan hari itu lalu menentukan jumlah porsi nasi di dalam piringnya. Selanjutnya menentukan jam makan, seperti makan berat ataupun cemilan. Ini juga didukung dengan suasana makan yang menyenangkan tanpa tekanana. Self esteem yang positif pun juga turut dibangung pada dirinya. Ada perasan bangga ketika ia berhasil menghabiskan makanannya. Cerita itu pun akan diulanginya di pekan berikutnya.

Cerita lainnya yang berkaitan harga diri anak ketika di masa usia balita, mba Hana bisa sangat cerewet di rumah, tetapi pendiam saat  berada di luar rumah? Baik ketika di sekolah atau di lingkungan baru. Bagaimanapun perilaku kita di rumah, setiap anggota keluarga bisa menerimanya. Akan tetapi ketika di sekolah, ada aturan yang harus dituruti dan teman-teman yang berbeda karakternya satu dengan yang lainnya. Sepertinya itu yang membuat merasa insecure.

Sementara itu, kemampuan untuk menghargai diri sendiri ada hubungannya dengan kemampuan bersosialisasi. Harga diri yang terbentuk pada usia dini, akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku kehidupan anak di kemudian hari. Sedemikian pentingnya pengembangan harga diri bagi setiap individu, maka perlu kerjasama yang sinergis antara semua pihak.

Apakah itu self esteem

Dalam teorinya, Rosenberg menjelaskan bahwa self esteem  memiliki arti kata penghargaan diri. Adalah suatu sikap positif atau negatif terhadap dirinya sendiri. Ini merujuk pada cara kita menghargai, mengapresiasi, dan menyukai diri sendiri.

Apakah konsep harga diri (self esteem) itu sama dengan kepercayaan diri (self-confidence)? Ada yang mengasumsikan sama, namun sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Rosenberg menyebutkan bahwa harga diri adalah cara menyukai diri sendiri secara keseluruhan, sedangkan kepercayaan diri merupakan cara untuk melihat kemampuan yang dimiliki. Self-esteem atau harga diri dapat terbentuk dari pengalaman yang sudah ada. Sementara itu, kepercayaan diri bisa berbeda, tergantung kondisi yang dihadapi.

Ada saatnya di mana perasaan harga diri itu berfluktuasi, bahkan berubah dengan cepat dalam situasi yang berbeda-beda. Ada saatnya juga di mana seseorang tetap berpikir positif tentang dirinya, walaupun kenyataan yang dihadapinya menunjukkan sebaliknya. Hal ini dikenal sebagai efek ketekunan (perseverance effect)

Kenapa self esteem itu penting untuk dimiliki oleh seorang anak? 

Pada dasarnya self esteem ini melihat seberapa baik atau buruk seseorang menilai dirinya sendiri. Nilai diri ini yang akan menjadi dasar bagaimana anak membawa dirinya di lingkungannya. Misalnya, anak dengan harga diri yang rendah, akan menilai dirinya tidak pintar, tidak bisa apa-apa, tidak percaya diri dan akan cenderung menarik diri. Sehinga ia tidak mampu menyesuaikan diri di sekolah yang cenderung menarik dari dari lingkungan karena merasa tidak mampu memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain. Ini akan berdampak di kemudian hari.

Hal yang berbeda terjadi ketika anak yang memiliki self esteem yang tinggi, mampu menampilkan dirinya sebagai pribadi yang menyenangkan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, mandiri, aktif, berani mengemukakan pendapat, dan percaya diri. Pembentukan harga diri merupakan sebuah proses yang berkesinambungan.

Peran Orangtua dalam untuk membantu anak menghargai dirinya

Satu kata yang dapat menumbuhkan self esteem pada anak, yaitu cinta. CINTAI MEREKA TANPA SYARAT!

Menurut para psikolog, pengembangan harga diri sangat dipengaruhi oleh pengalaman awal semasa kanak-kanak seseorang. Keluarga sebagai tempat pendidikan pertama memiliki peran dalam proses sosialisasi.

Harga diri bisa dibangun melalui proses pendisiplinan anak dengan syarat bahwa anak merasa dicintai. Ariesandi (2008) mengemukakan cara ketika memberikan keteladanan pada anak yaitu melalui tindakan orangtua, memperhatikan usia dan perkembangan anak, menggunakan bahasa cinta anak untuk memenuhi tangki emosionalnya, melakukan komunikasi dengan memperhatikan tipe kepribadian anak, serta memahami mekanisme pikiran anak.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa harga diri anak terbangun melalui dua hal, yaitu penerimaan (sejauh mana lingkungan khususnya orangtua menerima mereka apa adanya) dan kompetensi diri seperti ”Aku pandai” atau ”aku bisa lari kencang” (Hildebrand, 1985). Penelitian ini juga menemukan bahwa kebanyakan anak yang punya harga diri positif ternyata memiliki orangtua dengan karakteristik yang sama, yaitu juga punya harga diri yang positif tentang diri mereka sebagai orangtua

Orang tua yang memiliki self esteem yang tinggi, cenderung memiliki anak yang berharga diri tinggi. Begitu juga sebaliknya. Anak yang murung, rendah diri, serta memendam kebencian dan permusuhan itu karena orang tua memiliki self esteem yang rendah. Terkadang perbedaan pendapat tentang ibu pekerja ataupun ibu rumah tangga bisa menjadi badai informasi yang membuat self esteem-nya rendah.

Demikian juga dengan pengasuhan orang tua. Apabila orang tua mengasuh secara demokratis dan bijaksana, maka akan tumbuh seorang anak yang berkepribadian menyenangkan dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Orangtua yang demokratis cenderung membentuk harga diri anak menjadi tinggi, sementara orang tua yang otoriter dan permisif cenderung membentuk harga diri anak menjadi rendah.

Berikut ini adalah usaha yang kami lakukan untuk membangun harga diri yang positif pada ananda.

  1. Menerapkan batasan-batasan jelas pada anak secara teguh dan konsisten.

Dalam membangun perilaku makan, maka kami membatasi aturannya adalah makan dengan duduk dan makan yang cukup porsinya. Jangan pernah lelah untuk mengingatkannya terus menerus.

2. Memberikan kebebasan dalam batas-batas dan menghargai inisiatif.

Suatu hari mba Hana pernah bilang ke saya. “Mama sedih ya kalau aku makannya gak habis. Mendengar hal itu kok rasanya bikin nyess ya”. Jadi, rasa sayang orang tua apakah sebatas kalau anaknya makannya habis?

“Bukannya harus habis, tetapi karena kamu mba Hana makannya masih sedikit. Kalau makanan yang masuk ke mulut itu sudah banyak, ya gak perlu dihabiskan makanannya” kata papa Mba Hana yang menyemangatinya. Mba Hana pun tersenyum mendengar hal itu.

Kadang-kadang anak merasa bosan karena makan terlalu lama sehingga ia memilih jalan-jalan dan tidak mau menghabiskan makanannya. Untuk itu, membangun inisiatif mengambil porsi nasi yang cukup sesuai takaran perutnya juga perlu dilatih.

3. Kedisiplinan.

Ada kalanya disiplin dibangun dimulai dengan diskusi. Seperti jadwal harian yang sudah dibuat, perlu didiskusikan ke anak. Akan tetapi, jadwal tersebut bisa diberikan kelonggaran ketika ananda lebih memilih aktivitas yang lainnya.

4. Don’t do everything for them. Bantu anak seperlunya dan sesuai kebutuhan.

Ketika mba Hana minta tolong membukakan tutup pasta gigi, tanpa sadar saya membantunya melebihi apa yang diminta. Mulai dari membukakan tutup pasta gigi hingga mengeluarkan isinya ke sikat gigi.

Melihat hal tersebut, seketika itu mba Hana melarangnya.

“Mama, jangan dituangin. Aku aja”

Dari kejadian itu dapat dilihat bahwa anak ingin dihargai usahanya untuk mencoba segala sesuatunya sendiri. Ketika ia sudah mencoba berbagai cara namun tidak bisa, saat itulah ia merasa untuk meminta tolong.

5. Berikan pujian dengan tulus. Puji anak pada prosesnya bukan pada hasilnya.

Hargai setiap prosesnya adalah cara anak merasa dicintai dan diterima. Dan ini adalah proses yang panjang untuk membangun self esteem yang positif. Anak dengan self esteem yang positif, terpancar dari orang tua yang memiliki self esteem yang positif juga.

ima_mariafatimah

.

.

https://riliv.co/rilivstory/apa-itu-self-esteem/

https://www.aulad.org/index.php/aulad/article/view/68/43

https://www.neliti.com/publications/71471/strategi-pengembangan-harga-diri-anak-usia-dini

.

.

#writoktober2020 #RBMIPJakarta #Badai #aliranrasazonakemandirian

One Reply to “Dukung diri anak dengan membangun self esteem yang positif”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s